Senin, 20 Januari 2014

Malam Pertama Di Alam Kubur

Bagaimana suasana malam pertama di alam kubur… Bagaimana kedasyatan siksaannya…? Dosa-dosa apakah yang menyebabkan siksaan kubur…? Bagaimana kaedah menjemput kematian terindah
…?
“Setiap yang bernyawa pasti merasai mati, Wahai jiwa yang tenang, Pulanglah kehadrat Tuhan mu dengan gembira dan diredhai, masuklah dalam jemaah hamba-hamba-Ku, dan masuk pula dalam syurga-Ku…”
Pada hari itu ia begitu bahagia, menikmati indahnya alam ciptaan Allah, bersama anak dan keluarga, penuh keceriaan, hidup dalam kesenangan dan kehidupan yang terjamin, tertawa melihat telatah anak-anaknya, demikian pula dia ditertawakan oleh anak-anaknya… lalu tiba-tiba ia didatangi oleh suatu malam, malam disaat dia dijemput oleh kematiannya…
Sakarat….. Sakaratul Maut….
“Dan datangnya sakaratul maut itu benar… Itulah yang kamu selalu lari dari padanya… Ditiuplah sangkakala Hari terlaksananya Ancaman… Setiap jiwa datang dengan malaikat yang jadi saksi… Sungguh kami lalai akan kenyataan ini… Maka kami singkapkan kakitanganmu, pada hari itu hingga penglihatanmu menjadi jelas” (Qaf: 19-22).
Malam itulah malam pertama ia berada dalam alam kubur… sendiri dikecam oleh kesunyian, tanpa anak dan isteri/suami juga sahabat karib… yang ada hanyalah amal… inilah malam pertama anak kita menjadi yatim, dan isteri/suami kita menjadi janda/duda… malam pertama yang menggusur dari tempat tidur yang empuk menuju dinginnya tanah berselimutkan kafan… inilah malam yang mengusir kita dari rumah mewah dan megah.. menempati liang lahad yang gelap dan sempit… kelmarin malam kita masih berpesta, makan dan minum bersama sahabat karib… tiba-tiba kita masuk pada malam pertama dimana kita menjadi santapan cacing tanah dan serangga… pada malam ini kita baru sedar.. Ternyata… HARTA, KELUARGA, PEKERJAAN yang keras kita mencarinya sampai lalai dari mengingati Allah… tidak sedikitpun daripada semua itu menemani dan membela kita…
Allah SWT berfirman, “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masuk kedalam kubur, janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui akibat perbuatanmu” (At-Takatsur: 1-3)
Inilah malam episod pertama dari alam akhirat, kuburan boleh menjadi taman syurga, sebaliknya ia boleh menjadi satu lubang dari lubang-lubang neraka… inilah kematian datang dengan tiba-tiba… ia datang tepat pada waktunya… tidak lambat dan tidak cepat… meragut dengan paksa, melenyapkan segala nikmat dunia.. tidak pernah menilai kita tua atau muda, kaya atau miskin, sihat atau sakit… ia datang untuk mengeluarkan manusia dari alam kehidupan yang selama ini kita jalani.. ketahuilah rumah yang kukuh dan megah tidak akan mampu membentengi datangnya sang pencabut nyawa…
Banyaknya wang di bank tidak mampu memberi rasuah kepada Malaikat untuk undurkan waktu kematiannya… inilah realiti kematian… sudah bersiapkah kita menghadapi malam pertamanya… Bukankah Rasulullah Saw ada bersabda “ Orang yang bijak adalah yang sentiasa mengingati mati di antara kamu, dan ada bekalan setelah kematiannya..” Marilah kita siapkan bekalan untuk menjadi penyinar di alam kubur nanti… demi Allah, tiada yang sanggup menerangkannya melainkan dengan iman dan amal yang soleh..
Metode Menjemput Kematian…
“Kematian adalah nasihat terbaik dan guru kehidupan, sedikit sahaja kita lengah dari memikirkan kematian, maka kita akan kehilangan guru terbaik dalam kehidupan”
Sesungguhnya manusia telah memilih bagaimana akhir hidupnya… dan pilihan itu ada pada bagaimana ia menjalani kehidupannya… sebagaimana ia menjalani kehidupannya seperti itulah berakhirnya kematiannya… kerana sesungguhnya dengan menjalani kehidupan bererti kita sedang menuju kepada kematian kita…
Pernahkah kita mendengar berita tentang seorang penzina mati di katil hotel diatas perut pasanganya… seorang penagih dadah mati ketika menghisapnya… dan para penjudi mati diatas meja judinya… begitu juga kita pernah mendengar ahli ibadah mati di atas tikar sejadahnya…
Alangkah malangnya, saat ajal tiba kita masih berlumur dosa berbalut nista… inilah malam pertama kita DI ALAM KUBUR… sendiri, di cekam sepi gelap yang tidak pernah terbayang… hilanglah sudah… semua gemerlapnya DUNIA… RUMAH dengan jerih payah bertahun-tahun telah kita bangunkan… ISTERI/SUAMI dan pengabdiannya begitu tulus… ANAK, yang padanya darah daging kita… ORANG TUA yang titisan kasih sayangnya.. mengalir di tubuh kita… dan PEKERJAAN, yang bermati-matian kita habiskan waktu untuknya… KERETA MEWAH yang selalu menjadi kebanggaan… tapi kini hari itu telah pergi… masa pun telah tiada… yang tersisa hanya dosa… yang terus terbayang…
TERINGAT… akan ISTERI/SUAMI yang sentiasa dinafikan hak-haknya… ANAK, yang telah kita kotori tubuhnya dari nafkah yang HARAM… ORANG TUA, yang di sisa hidupnya belum sempat dibahagiakan… SAHABAT KARIB, yang meminta bantuan kita biarkan… dan KAWAN-KAWAN, yang telah banyak kita kecewakan…
Ya ALLAH, masihkah ada hari milik-Mu untukku… agar boleh ku lunaskan segala urusan… lilitan hutang yang belum terbayar… banyaknya AMANAH dan KEPERCAYAAN yang tidak disampaikan… beribu JANJI yang sering diingkari… dan WANG RASUAH, yang telah kita nikmati dan kita bagi… namun kini, PINTU-MU… sudah tertutup rapat… bertaubat sudah terlambat, menyesali diri sudah tidak bererti… dan tinggallah sendiri menanggung beban DOSA dan KESALAHAN yang tidak terMAAFKAN… merasakan PENDERITAAN yang PANJANG yang tiada berakhir… SEKARANG, adakah dalam hati kita MATI itu sebagai PENASIHAT..??? Semoga selagi masih ada waktu…
Fasa-Fasa Alam Kubur
Kesempitan kubur, pertanyaan malaikat, azab atau nikmat kubur, ditempatkannya ruh dan kebangkitan…
Alam kubur adalah alam perantaraan kehidupan dunia dan akhirat yang dimulai setelah kematian dan berakhir selepas kebangkitan… selama masa ini, seorang yang beriman merasa bahagia… sementara orang kafir merasa sengsara… orang yang sudah mati akan dihimpit dalam kubur… siapa pun ia kafir atau muslim akan merasakan himpitan kubur… bezanya penyimpitan yang dirasakan seorang mukmin tidak berlaku selamanya, tidak seperti orang kafir yang akan berterusan himpitan kuburnya sampai hancur tulang-tulangnya…
Sebagaimana sabda Rasulullah saw: “Sesungguhnya kubur itu memiliki himpitan, seandainya ada orang yang selamat darinya, maka selamatlah Sa’ad Bin Mu’adz…” Sa’ad Bin Mu’adz akan mengalami himpitan kubur, padahal ia adalah seorang pemimpin penuh kemuliaan, kematiannya menggoncangkan ‘Arasy, dibukakan baginya pintu-pintu langit, Kasyahidannya disaksikan oleh 70 ribu malaikat…
Hadis yang diriwayatkan oleh Nasa’I dari Rasulullah SAW: “Kematiannya menggoncangkan ‘Arasy, dibukakan baginya pintu-pintu langit, pintu yang banyak, Kesyahidannya disaksikan oleh 70 ribu malaikat, maka sungguh ia mengalami himpitan kubur, kemudian Allah melapangkanya.”
Apabila Sa’ad Bin Mu’adz seorang pemimpin yang besar, hamba Alah yang soleh dan mendapatkan mati Syahid mengalami himpitan kubur… bagaimana dengan kita..? Allahuakhbar… Ya Allah Terimalah taubat-ku… selamatkanlah aku dari azab kubur…
Rasulullah SAW bersabda “Seorang manusia apabila diletakkan dia di dalam kuburnya dan sahabatnya berpaling pulang sedang ia mendengar suara sandal mereka akan datang kepadanya dua malaikat dan mendudukkannya dan bertanya… SIAPAKAH TUHAN-MU…?, SIAPAKAH NABI-MU…?, APAKAH AGAMA-MU…?… dia menjawab, ALLAH ADALAH TUHAN-KU… MUHAMMAD ADALAH NABI-KU… ISLAM ADALAH AGAMA-KU…
Terdengarlah seruan dari langit, “Benar.. Hambaku, hamparkan baginya tikar dari syurga, lalu angin dan wangi syurga datang kepadanya kemudian kubur diluaskan seluas mata memandang, seorang yang rupawan datang menemaninya, yang tiada lain itulah amal solehnya.” (Hadis riwayat Ahmad, Abu Daud, Hakim dan Baihaqi).
Benarkah kita… boleh menjawabnya…? Dari lisan yang jarang menyebut Asma-Nya… dan ibadah yang sering kita remehkan… Serta sunnah Rasul… yang kita abaikan… pada saat itu… kita hanya mampu menjawab… TIDAK… TIDAK… TIDAAAKKKKK…
Terdengarlah suara penyeru dari langit… Hambaku ini seorang pendusta… Hamparkan padanya tikar dari api neraka, bukakan baginya pintu neraka, panas dan keringnya neraka mendatanginya… Kubur disempitkan sampai pecah tulang-tulangnya… seorang berwajah buruk berpakaian buruk dan berbau busuk datang kepadanya… Yang tiada lain itulah amal buruknya…
Tragedi… Siksa Kubur
“Aisyah Ra bertanya tentang azab kubur, Rasulullah SAW menjawab: Ya, azab kubur pasti ada.” (HR. Bukhari – Dalam Kitab Al-Janaiz).
“Aisyah Ra meriwayatkan bahawa Rasulullah SAW berdoa dalam solatnya, “Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari azab kubur…” (HR. Mutafaqun Alaih).
“Ketika orang-orang yang derhaka kepada Allah tidak mampu menjawab pertanyaan malaikat, lalu ia dipukul dengan besi… hingga ia menjerit dengan teriakan yang sangat keras… didengar oleh semua makhluk Allah, kecuali Jin dan Manusia,” (HR. Bukhari dan Muslim).
Saatnya kita menyaksikan… kejadian nyata tentang siksa kubur yang berlaku di Jazirah Arab… Seorang pemuda yang dikeluarkan dari kuburnya setelah beberapa jam dia dikuburkan… Akibat mengalami azab kubur, pemuda tersebut telah berubah wajah dan jasadnya… Pemuda tersebut merupakan remaja muslim yang meninggal pada usia 18 tahun… seorang pemuda yang rosak akhlak dan agamanya… dan sering melalaikan solat… hampir tiga (3) jam pemuda tersebut dikuburkan, pihak keluarga meminta kubur tersebut digali semula untuk keperluan tertentu…
Dan apa yang terjadi selepas mayat tersebut dikeluarkan… pandangan yang sangat mengaibkan… Rambut yang hitam menjadi putih… Dari mulut dan hidung keluar darah yang masih merah pekat… seperti baru mengalami siksaan kubur yang sangat keras… seperti ada yang memukul dibahagian belakang kepalanya… dengan wajah seperti dilemas dan membeku…


Bagi seorang muslim… ini adalah pengajaran yang sangat-sangat berharga agar segera memperbaiki hidupnya… dengan bertaubat dari dosa-dosa yang telah dilakukan…
Sementara itu… sebagai pengajaran dan iktibar untuk kita…
Suara jeritan jutaan manusia di alam bumi yang lain… di sebuah lubang galian yang berada di daerah Siberia… Dr. Azzacove bersama kumpulannya telah melakukan sebuah kajian tentang pergerakan perut bumi di daerah Siberia, Rusia… kemudian mereka memasang alat pembesar suara supersensitive untuk mendengar suara pergerakan perut bumi… sebuah penemuan yang sangat mengejutkan, ketika mesin penggali sampai pada salah satu perut/kulit bumi… dari ruang/alam bumi yang lain, terdengar suara manusia berteriakan sangat keras dalam kesakitan… bahkan suara jeritan itu jumlahnya bukan seorang tetapi ribuan bahkan jutaan orang… sebagai seorang muslim kita tidak akan ragu lagi bahawa suara tersebut adalah suara manusia yang sedang disiksa di ALAM KUBUR…
Sebab-Sebab Siksa Kubur…
Ibnu Qoyyim Rahimahullah, dalam kitab Ar-Ruh menyebutkan ada beberapa dosa dan maksiat yang dapat menyebabkan kita disiksa di ALAM KUBUR, diantaranya :
1. Melalaikan Solat
2. Membaca al-Quran kemudian melupakannya
3. Tidak bersuci setelah membuang hadas kecil
4. Berkata bohong
5. Tidak membayar zakat
6. Corak kehidupan yang berlebih-lebihan
7. Memakan riba
8. Rasuah
9. Memfitnah sesama saudara muslim
10. Khianat terhadap amanah
11. Enggan menolong sesama muslim
12. Meminum arak
13. Berzina
14. Membunuh
“Wahai anak Adam… Sesungguhnya apa yang kau minta dari-Ku… dan yang kau harapkan dari-Ku… Ampunan-Ku bagimu yang meminta dan tidak bagi yang enggan…”
“Wahai anak Adam… Meskipun dosamu sepenuh petala langit… kemudian engkau meminta ampun pada-Ku… Ampunan-Ku bagimu dan tidak bagi yang enggan…”
“Wahai anak Adam… Seandainya kau datang pada–Ku dengan kesalahan seluas bumi… kemudian engkau datang kepada-Ku… dan tidak berbuat syirik pada-Ku dengan sesuatu pun… Sungguh Aku akan berikan kepadamu ampunan…”
Ya Allah… terimalah taubatku… Ya Allah… terimalah taubatku… Ya Allah… terimalah taubatku…
Alangkah bahagianya… seandainya maut menjemput kita sedang berurai air mata merasakan manisnya iman dalam sujud penghambaan… rindu akan perjumpaan dengan-Nya…
Alangkah indahnya air mata yang selalu berlinang dari munajat seorang anak soleh kepada Allah… Merindukan kemuliaan dan keselamatan bagi kedua orang tuanya… taburan doanya menjadi cahaya yang menerangi dari gelapnya ALAM KUBUR…
Doa-doanya menghantar kepulangan orang tuanya pada Allah dalam Husnul Khatimah… rintihan dan munajatnya menjadi benteng yang kukuh sebagai penghalang dari azab dan siksa kubur… Doa yang tiada terputus mengalir dari ketulusan dan keheningan hati agar orang tuanya dalam kasih sayang Allah…
Rujukan :
1. Kitab Ar-Ruh : Ibnul Qoyyim,
2. Kitab Al-Janaiz : Imam Bukhori,
3. Kitab Awwalu Lailatin Fil Qobr : Dr. Aidh Al-Qorni,
4. The Spectacle Of Death : Khwaja Muhammad Islam,
5. Grave Punishment : Al-Sunna.

Melihat Allah dengan Alam hati

Kita ketahui bahwa melihat Tuhan yang dibenarkan dalam ajaran Islam dan Syiah Imamiyah adalah melihat Tuhan dengan hati dan hakikat keimanan, namun
terdapat banyak ragam pendapat dalam bidang Teologi, Filsafat, dan Irfan berkenaan dengan melihat Tuhan dalam permasalahan ini.
Merupakan hal yang wajar bahwa ketika terdapat pembicaraan berkenaan dengan kedudukan ini, yaitu penyaksian Tuhan, maka kita perlu menyelidikinya dalam kajian Irfan praktis. Akhir dari sesuatu yang dibahas di dalam Teologi dan Filsafat atau bahkan di dalam Irfan teoritis dapat diperoleh dalam kesempatan ini, atau hubungan dengan diperbolehkan dan tidak diperbolehkannya kepercayaan demikian, atau juga pembahasan global dan rasional berkenaan dengan maksud permasalahan ini.
Berkenaan dengan masalah ini, kita dapat menggunakan apa yang termaktub dalam al-Qur’an dan sunnah, bahwa orang-orang Mukmin mengharapkan perjumpaan dan pertemuan dengan Allah swt, kebalikan dari orang-orang kafir.
Sebagian orang-orang Mukmin berjumpa dengan Allah swt di dunia ini dan sebagian yang lain pada hari kiamat. Dalam Irfan juga hakikat sejati Mukmin di dunia ini haruslah sampai pada puncak perjalanan spiritual yaitu perjumpaan dengan Allah Swt, sebagaimana Rasulullah Saw telah sampai pada maqam ini.
Hal ini sebagaimana disebutkan dalam riwayat bahwa salat adalah mikrajnya Mukmin dan sebagaimana yang kita ketahui bahwa tujuan mikraj adalah perjumpaan dengan Allah swt.
Sekarang pertanyaan yang mengemuka adalah bagi seseorang yang masih pemula dalam perjalanan spiritual, Apakah terdapat jalan untuk menempuh makam ini? Sampai pada derajat tingkatan mana seseorang dapat mereguk manisnya anggur cinta sehingga dapat berlari menuju perjumpaan dengan Allah swt?
Pada kesempatan kali ini terdapat sebuah riwayat yang dinukil dari kitab Tauhid Shaduq bahwa merenungkan adalah sebuah motivasi dan juga menunjukkan tafsiran-tafsiran yang beragam berkenaan dengan itu. Riwayat ini akan kami sebutkan dibawah ini:
Abu Bashir mengatakan, saya bertanya kepada Imam Shadiq As, beritahu saya tentang Allah Swt,  apakah orang-orang Mukmin dapat melihat Allah Swt pada hari kiamat?” Beliau As menjawab, “Iya dan sebelum hari kiamat pun mereka dapat melihat-Nya.” Saya bertanya pada waktu kapan? Beliau As menjawab, ketika dikatakan kepada mereka “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kemudian beliau sesaat berdiam, setelah itu berkata, dan mereka orang-orang Mukmin ketika di dunia sebelum hari kiamat dapat melihat-Nya!...Bukankah engkau tidak termasuk demikian pada saat ini engkau melihat-Nya?!
Abu Bashir berkata, saya bertanya kepada beliau as, jiwaku sebagai tembusanmu, bolehkah saya meriwayatkan perkataan Anda ini? Imam Shadiq As menjawab, “Tidak ! Karena setiap kali engkau meriwayatkan perkataan ini maka orang jahil akan mengingkarinya, orang jahil sebagaimana yang kami katakan, mereka akan mengingkari hal ini dan menganggap hal ini adalah penyerupaan dan kekufuran. Akan tetapi melihat dengan hati tidak sama melihat dengan mata Allah lebih baik dari apa yang disifatkan orang-orang yang menyerupakan dan mengingkari-Nya”.[1]
Riwayat ini menurut sebagian orang Arif, seperti Faidh Kasyani merupakan sebuah tafsiran dari melihat Allah swt di dalam makam perjumpaan (liqâ).
Rahasia riwayat ini dan riwayat yang sepertinya tidaklah semudah dipahami dan dijelaskan. Dengan keadaan ini dapat di pahami dengan mengkaji pembahasan melihat Allah dengan hati di dalam Irfan praktis, dan hal ini merupakan sebuah hakikat irfani dan sebuah kepercayaan, setelah itu berusaha dalam mewujudkannya.
Penglihatan hati atas pelbagai manifestasi Allah yang merupakan makna yang benar melihat Allah Swt memiliki ragam tingkatan yang berbeda. Meski tingkatan aslinya hanya hanya dapat diperoleh setelah pesuluk “meleburkan diri”[2](fana), sebagaimana Nabi Musa As meminta hal tersebut, namun terdapat tingkatan-tingkatan dan derajat-derajat turunan yang diraup oleh salik buah dari temuan-temuan syuhudi dan qalbunya, sebagaimana Rasulullah Saw bersabda, “Barangsiapa yang melihatku maka ia melihat al-Haq.[3] Yakni melihat keindahan Nabi Muhammad Saw yang merupakan percikan hakikat Muhammadiyah dalam kesadaran atau dapat dikatakan sebagai melihat dan menyaksikan tahapan dari penyaksian Tuhan di dalam cerminan tanda-tanda (keberadaan) Illahi.
Keindahan ini juga dapat dilihat pada keindahan para Imam Ahlulbait As yang merupakan pancaran manifestasi yang menghantarkan kepada perjumpaan dengan Allah Swt, berdasarkan hal ini disebutkan bahwa, “Melihat wajah Ali As adalah ibadah.”[4]
Mazhab para pecinta dalam Irfan Islam adalah sebagaimana melihat Tuhan dalam penampakan. Buku-buku sastra yang berisikan syair-syair seperti Diwân Hâfiz, Matsanawi Rumi, Mantiq al-Thair ‘Athar, dan lain-lain merupakan isyarat akan rahasia dan simbol mazhab ini yang masyhur di kalangan budaya Iran.
Sebagaimana yang dikatakan Faidh Kasyani, di dalam menjelaskan riwayat Abu Bashir, semua dapat melihat penampakan Tuhan, namun perbedaannya pada manusia adalah berdasrkan makrifah dan kepercayaan terhadap hal itu. Di bawah ini kami akan menukilkan beberapa perkataan Faifh Kasyani dalam kitab Kalimat Maknunah, “Seberapa berusaha menguak inti hakikat maka tak akan pernah ditemukan jalan, karena Ia menyeliputi segala sesuatu dan yang terliputi tak akan dapat meyeliputi sesuatu lainnya, namun berkenaan dengan keabsolutan penampakan dalam kejelasan-kejelasan nama-nama Ilahi yang hadir di setiap eksistensi, di setiap tingkatan merupakan sebuah pancaran nama-nama Ilahi. Sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Quran, “Maka ke arah mana pun kamu menghadap, di situlah terdapat “wajah” Allah”.[5] Dan disebutkan dalam sebuah riwayat: Meskipun engkau berlari menuju paling bawahnya lapisan bumi maka engkau akan tetap menemukan-Nya. Oleh karena itu, kebenaran penglihatan dan makrifah adalah sesuatu yang mungkin, bukan hanya itu melainkan penampakan semua ini benar-benar ada, akan tetapi telah diketahui bahwa dengan perantaraan apa kita melihat-Nya, jadi dapat dikatakan bahwa pada segala sesuatu yang aku lukis, aku melihat Allah sebelumnya, sesudahnya, dan bersamanya, akan tetapi orang awam tidak mengetahuinya apa yang mereka lihat. Sebagaimana yang disebutkan di dalam Al-Quran, “Ingatlah bahwa sesungguhnya mereka berada dalam keraguan tentang pertemuan dengan Tuhan mereka. Ingatlah, bahwa sesungguhnya Dia Maha Meliputi segala sesuatu.“[6] Bukankah telah aku katakan hari perjumpaan akan datang? Ia menjawab perhatikanlah dengan baik mungkin saja engkau telah sampai![7]
Terdapat  amalan-amalan secara umum di dalam Irfan untuk memperoleh makam penyaksian penampakan Illahi, yaitu pensucian hati dari noda-noda kekufuran, nifaq, dan syirik kepada Allah swt, sebagaimana kalbu yang suci, yaitu hati yang kosong dari selain Allah dan hanyalah Allah yang hadir di dalam hatinya. Kehadiran Allah swt di sini bermakna penyaksian penampakan Allah Swt dalam hatinya dan menyakini akan penampakan ini. Makam ini hanya dapat di rasakan dan jalan untuk sampai ke makam ini adalah meninggalkan ke-egoan dan kecintaan diri, dan tujuan dari irfan praktis yang sejati tidak lain  kecuali hal ini.
Pada kehidupan sehari-hari hanya terdapat sedikit dari orang-orang yang memiliki keteguhan dalam mengamalkan perkara ini. Dengan keadaan ini merupakan jalan menuju kesadaran sebelum semua manusia dikumpulkan pada hari kiamat kelak akan disingkapkan semua kepada mereka.
Sungguh telah rugilah orang-orang yang mendustakan pertemuan mereka dengan Allah; sehingga apabila kiamat datang kepada mereka dengan tiba-tiba, mereka berkata, “Alangkah besarnya penyesalan kami terhadap kelalaian kami tentang kiamat itu!"[8] [iQuest]